Orasi Ilmiah Dies Natalis UMS 59th: Aktualisasi Nilai-nilai Keislaman dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Dikirim oleh ridlo pada Jum, 10/27/2017 - 13:53
orasi-kebangsaan-0000

Menginjak usia yang ke-59, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar berbagai acara baik yang ditujukan secara akademis maupun non-akademis untuk memperingati Miladnya tersebut. Salah satu kegiatan akademis yang digelar oleh UMS yaitu Orasi Kebangsaan yang dilaksanakan di Gedung Auditorium Mohammad Djazman Kampus 1 UMS, Jumat (27/10/2017).

Acara orasi tersebut mengangkat tema “Aktualisasi Nilai-nilai Keislaman dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”. Dr. Sofyan Anif, M.Si. selaku Rektor UMS menjelaskan bahwa UMS mendapatkan tuduhan-tuduhan sebagai kampus yang didalamnya terdapat paham radikalisme.

“Tema ini memang sengaja kita ambil karena akhir-akhir ini UMS, dan barangkali Muhammadiyah secara umum mendapatkan semacam tuduhan-tuduhan sebagai kampus yang di dalamnya sara dengan ideologi radikalisme,” jelasnya.

Orasi Kebangsaan ini secara langsung dibawakan oleh Dr.(HC). H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M. selaku Ketua MPR Republik Indonesia. Banyak hal yang dia jelaskan dalam kesempatan ini, salah satunya mengenai seperti apa yang dimaksud dengan Pancasilais dan Non-Pancasilais yang kini telah menjadi isu nasional. Dia menegaskan bahwa warga Indonesia yang mau menyembah dan mendekatkan diri kepada Tuhannya, mereka adalah warga yang Pancasilais.

“Prinsipnya adalah Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan dan menolak paham anti Tuhan. Oleh karena itu menyembah Tuhan dan mendekatkan diri kepada Tuhan itu Pancasilais. Itu Jalan mendekatkan diri kepada NKRI, itu jalan untuk mencintai negerinya. Bukan radikal apalagi intoleran,” tegasnya dalam orasi yang dibawakannya.

Sehingga orang yang taat beragama adalah jalan untuk mencintai negerinya, serta orang yang melaksanakan ibadahnya dengan benar adalah jalan untuk mencintai NKRI nya. Dr. Zulkifli juga menambahkan bahwa di dunia ini ada yang radikal, satu atau dua orang dan harus dihadapi. Namun, jangan sampaiu orang yang melaksanakan ajarannya dengan baik malah di cap macam-macam.

Selain itu, dia juga menambahkan bahwa Pancasila itu adalah perilaku yang menunjukkan kita sebagai Warga Negara Indonesia. “Pencasila itu adalah perilaku kita, perilaku pemerintah, perilaku negara, perilaku yang berpihak kepada kepentingan bersama, saling menghargai dan mempersatukan kita. Jadi Pancasila itu bukan untuk memecah belah, namun untuk mempersatukan kita,” tambahnya.

Di akhir kesempatannya ini, dia mengatakan bahwa UMS merupakan kampus perjuangan dan kampus Pancasila. “Ini kampus perjuangan. Ini kampus Pancasila. Kalau ada yang mengatakan radikal, keblinger itu,” tandasnya. (Khairul)