Raih Prestasi di Bidang Video, Kine Club FKI UMS Sumbang Juara 1

Dikirim oleh ridlo pada Sen, 01/15/2018 - 14:08
film-kine-juara

Beragam prestasi yang diperoleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) hinga saat ini masih terus bermunculan. Kali ini prestasi tersebut diperoleh dari karya video yang diproduksi oleh salah satu tim dari Kine Club Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI). Prestasi tersebut mereka raih dalam lomba video yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Surakarta.

Lomba video yang diikuti oleh masyarakat se-Karisidenan Surakarta ini mengambil tema “Jelajahi Dunia dengan Membaca”. Perlombaan ini diadakan sejak Jumat – Sabtu (20/10-30/11/2017). Dalam kompetisi ini, tim dari Kine Club FKI UMS yang beranggotakan Gandhung Suryo Sumirat, Aswhin Safitri, dan Wangga Ramadessela berhasil meraih Juara 1 kategori umum.

Film yang mereka beri judul “Pecahan Dunia” diputuskan sebagai juara 1 pada Senin (04/12/2017). Film tersebut menceritakan mengenai seorang pemuda penjual koran yang tidak sengaja melihat berita bahwa Perpustakaan Daerah telah dibuka. Kemudian karena dirinya suka membaca, lalu dia mencoba datang ke perpustakaan dan secara tidak sengaja membaca buku mengenai cara membuat usaha kecil. Setelah itu diceritakan pemuda tersebut sering membaca dan memulai praktik usahanya dan pada akhirnya berhasil menjadi orang sukses.

Gandhung mengungkapkan bahwa dirinya merasa tidak menyangka bahwa dapat berhasil meraih juara 1 dalam lomba tersebut. Apalagi dirinya juga merupakan mahasiswa baru di UMS dan baru pertama kali ini mengikuti lomba video.

“Saya tidak menyangka saja bisa mendapat juara 1 dalam lomba tersebut. Padahal ini baru pertama kalinya saya ikut dalam lomba seperti ini. Tapi ya ini semua juga karena bantuan dari senior-senior kami dan kerjasama rekan-rekan 1 tim juga,” ungkapnya ketika ditemui.

Dia menjelaskan bahwa dalam produksi film tersebut tidaklah lancar dan terdapat beberapa kendala secara teknis. Salah satunya adalah suara noise dari kendaraan yang lewat sehingga dalam proses editing perlu menghilangkan noise-noise tersebut.

Selain itu, waktu yang disediakan untuk proses produksinya sendiri menurutnya sangat mepet. Mereka baru mendapatkan informasi mengenai lomba tersebut 5 hari sebelum penutupan lomba. Kemudian tahap perencanaan mulai mereka lakukan sehari setelahnya, Rabu (27/11/2017). Kemudian sisa 3 hari yang ada sebelum penutupan mereka gunakan untuk rapat, proses produksi, editing, dan pengumpulan karyanya.

Gandhung menjelaskan bahwa waktu mereka untuk produksi memang sangat mepet. Namun, mereka tetap ingin berusaha untuk mengikuti lomba tersebut. Apalagi mereka juga mendapatkan dukungan secara moril dari teman-teman di komunitasnya.

“Waktu kami untuk produksi film itu sangat mepet. Tapi kami tetap ingin nekat mengikuti lomba tersebut, apalagi teman-teman dan senior juga mendukung. Bagi kami menang atau kalah soal belakangan, yang penting kami berani maju dulu,” jelasnya. (Khairul)