Meraih Impian di Negeri Jiran

Negeri_Jiran

Dr. Tjipto Subadi, M.Si., merupakan dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Beliau melihat fenomena ketidaktersediaan lapangan kerja di daerah asal (Jawa Tengah) yang memicu para pencari kerja untuk merantau hingga ke negeri tetangga. Hal ini mendorong beliau untuk melakukan penelitian tentang perjuangan para tenaga kerja Indonesia di luar negeri untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan jumlah penduduk 33.501.978 menurut BPS (Badan Pusat Statistik) Provinsi Jawa Tengah tahun 2014. Ada 25.181.967 orang usia kerja (15 tahun ke atas) di Jawa Tengah tahun 2014, dan 16.550.682 orang di antaranya  telah bekerja. Sedangkan untuk tahun 2015 sendiri (terhitung Januari-Mei 2015) hanya ada 3.519 lapangan kerja yang tersedia di Jawa Tengah, padahal total pencari kerja 13.271 orang , artinya ada 9.752 pengangguran.

Angka pengangguran yang cukup tinggi karena terbatasnya lapangan kerja menyebabkan bertambahnya jumlah kemiskinan di Jawa Tengah, meskipun telah diupayakan melalui pemberian pelatihan, pembinaan usaha mandiri, pembinaan sektor informal, peningkatan usaha ekonomi produktif dan juga perluasan kesempatan kerja ke luar negeri. Akhirnya sebagian masyarakat Jawa Tengah memilih mengadu nasib ke luar negeri termasuk ke Malaysia untuk mengatasi keadaan ekonomi keluarganya.

Kendala kemudian datang mengiringi para tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di Malaysia seperti kesalahpahaman bahasa yang mengakibatkan kemarahan majikan yang tak jarang berujung kekerasan maupun penyiksaan; kurangnya kompetensi atau pun keahlian para pekerja Indonesia; sikap feodalistik (sistem pemerintahan yang memberikan kekuasaan yang besar kepada golongan bangsawan yang lebih mementingkan jabatan atau pangkat dan tidak mementingkan prestasi kerja) yang masih melekat di sebagian majikan sehingga menganggap para pekerja mereka adalah budak; serta lemahnya pengawasan dan pengecekan dari agen penyalur. Permasalah yang sudah menahun ini tak juga menyurutkan keinginan para pencari kerja lainnya untuk mengadu nasib di negeri Jiran tersebut.

“Temuan-temuan tentang permasalahan TKI, seperti tuntutan pekerjaan terlalu tinggi, miskomunikasi, rendahnya kompetensi TKI membuat TKI mendapat masalah dengan para majikannya. Selain itu, upah TKI di Malaysia misalnya, paling rendah dibandingkan dengan tenaga kerja dari negara lain, padahal mereka bekerja di posisi dan tugas yang sama. Semuanya telah dilaporkan ke dinas terkait dan menjadi acuan dalam memperbaiki dan melindungi para TKI ke depan,” jelas Bapak Tjipto yang menduduki peringkat pertama dari 5 dosen UMS yang masuk dalam jejeran ilmuan/dosen Indonesia berdasarkan profil Google Scholar sejak Oktober 2015.

Di sisi lain, ada juga TKI yang beruntung saat bekerja di Negara tetangga, seperti Rosita (bukan nama sebenarnya), TKW yang berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah, ia sukses menjadi pengusaha sapu usai pulang bekerja dari Malaysia. Dia merintis usaha pembuatan sapu sejak sejak 2005, kini telah menjadi lapangan kerja bagi ratusan warga sekitar. Produk sapunya ini telah merambah ke beberapa negara seperti Taiwan, Korea Selatan, dan Malaysia.

Selain faktor ekonomi, ada pula TKI yang mempunyai alasan bekerja ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan, contohnya Darmi (bukan nama sebenarnya) (28) TKW asal Banyumas, Jawa Tengah, sukses meraih gelar Strata satu manajemen dari Universitas Terbuka Malaysia. Tahun 2004 Darmi merantau ke Malaysia, saat berniat kembali ke Indonesia di tahun ke tiga dia bekerja di sana (2007), karena keinginannya untuk melanjutkan pendidikan karena sebelumnya Darmi lulusan D2 dari salah satu sekolah tinggi di Semarang, majikan dimana Darmi bekerja melarangnya pulang ke indonesia dan mengusulkan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka Malaysia. Majikannya pula lah yang membantu biaya kuliahnya hingga selesai.

Contoh lainnya TKI bernasib baik adalah Triyo (bukan nama sebenarnya), mantan TKI Arab Saudi (1991-2000) asal Blitar, Jawa Timur ini sukses membangun tujuh minimarket dari hasil kerja kerasnya selama di Arab Saudi. Saat ini minimarket yang didirikan olehnya telah tersebar di Blitar dan Tulungagung, Jawa Timur.

Menurut Bapak Tjipto, pemerintah Jawa Tengah perlu menempuh beberapa langkah untuk mengurangi permasalahan TKI seperti memberikan jaminan kepada majikan yang tidak bermasalah menggunakan saja Tenaga Kerja Indonesia; membentuk Badan Bersama Penyelasaian Masalah; memberi cuti TKI satu hari/minggu, jika cuti tidak diberikan, pihak majikan membayar pampasan (uang yang harus dibayarkan) kepada pembantu rumah tersebut; semua kasus pembantu rumah diselesaikan oleh Kumpulan Kerja Bersama antara Malaysia dan Indonesia; mengkaji kembali MoU (pernyataan kesepahaman tertulis) Ketenagakerjaan.

“Saya ingin ke depannya paspor yang bawa bukan majikannya. Majikan tidak punya hak untuk menahan passport. Ketika ada permasalahan pembantu rumah tangga tidak bisa pulang  kalau paspor di tangan majikan. Itu ada kecenderungan untuk semena-mena. Kemudian, pemerintah kita harus berani dalam melindungi para TKI dengan memperbaiki sistem dan undang-undang. Selain itu, perlu adanya dorongan dari pemerintah untuk dapat membantu dalam peningkatan upah untuk para TKI,” ungkap Bapak Tjipto yang telah menulis berbagai judul buku, diantaranya Pendidikan  Kewarganegaraan  (Civic Education) dalam proses terbit di tahun 2016, Sosiologi dan Sosiologi Pendidikan dari penerbit Fairuz  Media “Duta Permata Ilmu” tahun 2015,dan Landasan Pendidikan (Edisi Revisi) penerbit Gava Media tahun 2014.

Mengawali karir sebagai seorang pengajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tahun 1980 dengan mengajar strata satu jurusan Pendidikan Umum, kemudian ditugaskan di jurusan Pendidikan Matematika, dan mulai tahun 2010 dimutasi ke jurusan Pendidikan Geografi, Bapak Tjipto kemudian di tahun 2004 mulai mengajar di Pascasarjana Jurusan Magister Pendidikan di Universitas yang sama. Penelitian “Pengiriman TKI ke Malaysia Strategi mengatasi Kemiskinan dan Biaya Pendidikan (Studi Kasus TKI Asal Jawa Tengah dengan  Pendekatan Fenomenologi)” merupakan penelitian yang dilakukan dengan bekerja sama alm. Dr. Samio, MM. yang juga merupakan dosen di UMS serta bermitra dengan Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah. Selain itu penelitian ini merupakan hibah dari Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia di tahun 2015.