Bekatul, Makanan Anti Diabetes

Arifah Sri Wahyuni, S.Si., Apt., M.Si.

Diabetes adalah salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang dapat menyebabkan kematian pada manusia. Diabetes menjadi penyakit penyebab kematian nomer enam di dunia dan nomer tiga di Indonesia. Diabetes atau kencing manis adalah kelainan metabolik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kurangnya insulin atau ketidakmampuan tubuh untuk memanfaatkan insulin (Insulin resistance). Hal ini menyebabkan tubuh tidak dapat memanfaatkan glukosa, dan dalam kondisi kronis dapat menyebabkan berbagai macam penyakit komplikasi di antaranya stroke dan jantung.

Dahulu penyakit ini hanya diderita oleh orang berumur 40 – 50 tahun ke atas namun fenomena saat ini, orang dengan usia 20 tahun pun sudah ada yang mulai terkena penyakit ini. Hal ini terjadi karena pola hidup manusia yang berubah terutama pola makannya. Di era modern ini orang lebih memilih makanan yang cepat saji yang tidak sehat seperti burger, pizza, dan minuman bersoda adalah faktor terbesar penyebab penyakit ini.

Arifah Sri Wahyuni, S.Si., Apt., M.Si. merupakan salah satu akademisi dari Fakultas Farmasi yang dimiliki oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta. Beliau memimpin sebuah penelitian hibah bersaing yang didanai oleh pemerintah bersama rekan se-timnya, yaitu Rima Munawaroh, S.Si, M.Sc, Apt dan Dr. Muhammad Da’I, S.Si, M.Sc, Apt. Penelitian yang telah dilakukan selama tiga tahun ini (masih dalam proses penelitian), berfokus pada obat untuk menyembuhkan diabetes. Pembuktian produk, yaitu bekatul, dilakukan di tahun pertama penelitian, di tahun kedua penelitian dilakukan untuk menemukan mekanisme produk dan di tahun ketiga penelitian dilakukan untuk menguji keamanan produk (masih dalam proses penelitian). Alasan mengapa beliau memilih penelitian ini karena beliau melihat potensi dari kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki oleh Indonesia dan kurangnya sumber daya manusia yang mengolah kekayaan alam itu.

“Bekatul beras hitam dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Mereka menggunakan bekatul beras hitam hanya untuk pakan ternak dan sisanya langsung dibuang. Padahal di dalam bekatul beras hitam mengandung zat kimia bernama sianidin, yaitu senyawa golongan  antosianin dan yang mempunyai kemampuan untuk mengontrol kadar gula dalam darah. Hal ini sangat baik bagi penderita diabetes,” papar Ibu Arifah.

Di tahun pertama dan ke dua Ibu Arifah melakukan penelitian untuk membuktikan dan menemukan mekanisme kerja sebagai antidibetes yang dimiliki bekatul beras hitam. Penelitian preklinis diujicobakan pada hewan uji yang dibuat model diabetes. Penelitiannya menunjukkan penurunan gula darah yang signifikan, artinya gula darah menjadi mendekati normal.

Di tahun ketiga (masih dalam proses penelitian), beliau mengkombinasikan tanaman meniran yang mempunyai anti– oksidan tinggi pada penelitiannya. Beliau menemukan bahwa bekatul beras hitam  mempunyai keamanan yang cukup tinggi. Untuk peneletian selanjutnya beliau mempunyai sebuah gagasan untuk mengkomersilkan penelitiannya tersebut menjadi sebuah obat atau suplemen diet bukan hanya untuk orang yang mempunyai diabetes tapi juga untuk orang normal juga. “Saya bercita-cita bekatul beras hitam bisa dikemas dengan apik sehingga orang pun tertarik untuk menjadikannya makanan alternatif pengganti makanan pokok, seperti oatmeal tetapi memiliki cita rasa lokal,”